Ada sebuah bunga mawar yang hidup dalam sebuah vas bening kecil kepunyaan wanita tua bernama Reinada. Dia telah hidup cukup lama disana. Awalnya ia berpikir kalau dirinya adalah mawar yang baka. Tapi ternyata tidak. Ada saat dimana ia hancur berkeping-keping oleh angin yang selalu menemaninya.
Dan akhirnya waktu itu pun terjadi juga. Saat dimana kelopak bunganya satu persatu mulai jatuh dan tangkainya melemah. Dia sedikit mengerang karena sakit. Yang menemani dia hanyalah angin yang selalu melewatinya ketika angin akan pergi menuju arah yang telah ditentukan oleh Tuhan. Ia sedikit terhibur dengan lelucon angin dan kehadirannya yang membuat mawar nyaman.
Mawar bergoyang sedikit. Angin menerbangkannya pelan.
“Selamat pagi, apa kabar?”
Mawar menoleh pada angin yang terlihat buru-buru.
“Pagi kembali. Sedikit buruk.”
Angin berhembus ingin menerbangkannya lagi. “Hentikan. Aku takut jatuh.”
“Bukankah memang sudah saatnya dirimu mati?”
Angin menyeletuk. Mawar terdiam. Ia menggoyang-goyangkan mawar dengan tangan transparannya.
“Bukan apa. Tetapi, memang itu kenyataannya. Kau sudah sangat rapuh dan memang sudah saatnya pergi. Tidak ada yang bisa kau lakukan lagi, mawar.”
Angin mengatakan hal yang sebenarnya. Dimana memang mawar sudah ditakdirkan mati hari ini.
Mawar menangis. “Maafkan aku. Aku terlalu congkak sehingga aku berpikir bahwa aku akan abadi. Aku hanya merindukan belaian dari tangannya. Kenapa dia tak kunjung kembali...” Mawar terisak dalam hening.
Mawar mendengar angin menarik napasnya. “Memang sudah ini takdirnya. Takdir dimana kau memang seharusnya pergi. Ingat, mahluk di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua akan mati. Tak terkecuali aku. Aku hanya bertugas memenuhi kewajiban dari Tuhan untuk alam semesta. Jika aku selalu ada untukmu, itu hanya kebetulan saja. Maafkan aku. Aku tidak hadir untuk menetap, melainkan untuk singgah. Karena sebenarnya yang menetap untukmu adalah Reinada.”
Angin mengakhiri ceritanya sambil menghela napas.
“Dia sudah tiada sehingga dirimu juga akan segera menyusulnya.”
Mawar terkejut. “Maksudmu ia sudah tiada?! Apa yang terjadi?! Apa dia terluka?!”
“Ya Tuhan, mengapa kau tak pernah menceritakannya padaku?!”
“Angin, jawab aku!”
Belum sempat angin menjawab, Tuhan memberi isyarat untuk melakukan hal itu. Angin mematuhi perintah-Nya tanpa memperdulikan mawar yang sudah berkaca-kaca. Satu hembusan kuat menerbangkan mawar yang sudah benar-benar lemah dan memporak-porandakan halaman depan rumah Reinada.
“Maafkan aku, mawar. Kau sudah terlalu lama hidup di dunia dan terlalu mencintai seorang manusia. Kau bunga yang baik, sehingga Tuhan memanggilmu sekarang. Cepat susul Reinada dan dekap dia sepuasmu...”
Angin berhembus pelan sambil beranjak pergi meninggalkan tempat yang meninggalkan sejuta kisah di dalamnya.
—dinaoktarini, manusia yang akan mati
#waritasederhana

Komentar
Posting Komentar